Menjadi Agen Perubahan dalam Birokrasi

Kami specialist pelatihan atau training soft skill dan menyediakan berbagai paket outbound training, didukung oleh tim Event organizer sehingga praktis dan hemat, hubungi 08111913355, 081514894676.

Pelatihan atau training Soft skill sekarang ini menjadi trend di berbagai perusahaan untuk menyiapkan karyawan untuk promosi di level berikutnya atau mendidik mereka yang saat ini berada dalam posisi sekarang agar lebih efektif, Modul Training soft skill kami kemas secara customized dan dibawakan oleh master trainer Soft skill kelas nasional dengan teknologi Mind Power.

Di bawah ini adalah artikel yang sangat menggelitik ketika di baca karena mewakili kebutuhan profesional diperusahaan manapun, Pelatihan atau training soft skill ini adalah investasi yang sangat penting untuk kelangsungan hidup perusahaan, terlebih lagi bila porgam dapat di customized sehingga sesuai dengan kondisi dan tantangan riel dalam perusahaan, Materi lebih dalam dari Pelatihan atau training soft skill ini dapat di baca di Metapro Indonesia, silahkan klik saja.

 

 

Yumei Sulistyo Psi.MM – Tranceformindset Educator

Dosen IPMI International Business School

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) langsung turun ke lokasi bom Sarinah. Tindakannya hanya beberapa jam pasca kejadian yang menewaskan tujuh orang tersebut.

Reaksi publik sangat beragam. Namun, ketimbang yang nyinyir dan menganggap hal itu hanya pencitraan, lebih banyak rakyat yang memuji kedua pemimpin tersebut. Publik menganggap Jokowi dan Ahok tidak takut mendatangi tempat yang masih hangat dengan darah korban.

Hal yang tidak dilakukan pemimpin-pemimpin sebelumnya, yang di mata publik kerap telat mengunjungi lokasi bencana atau “menghilang” ketika ibukota dikepung banjir yang berdampak terhadap kemacetan parah di berbagai wilayah.

Saya tidak bermaksud memuji Jokowi atau Ahok dalam bekerja untuk rakyat. Yang saya ingin garisbawahi bahwa mereka adalah aktor perubahan yang mendobrak pola kepemimpinan.

Gaya kepemimpinan “turun ke jalan” itu sebenarnya sudah usang. Banyak pemimpin di negara lain yang melakukannya ratusan tahun lalu. Tetapi, karena jarang dirasakan oleh masyarakat, makanya kita merasa seperti membawa angin segar perubahan.

Pemimpin yang membawa perubahan ke arah lebih baik pasti akan menghadapi benturan kekuatan kelompok yang telah lama berada di zona nyaman. Ibarat orang yang sedang merenovasi rumah, selalu saja ada yang kelilipan di mata.

Indonesia membutuhkan pemimpin dengan visi jauh kedepan yang mempunyai integritas dan kredibilitas serta mengutamakan kepentingan orang banyak daripada kepentingan kelompok dan perseorangan.

Orang-orang yang seperti ini selalu didukung rakyat, pemimpin yang punya gaya transformational leadership, karena dianggap paling sesuai untuk mencapai perubahan ideal sesuai tujuan dari berbangsa dan bernegara yaitu untuk mensejahterakan rakyat.

Apapun definisi dari kepemimpinan transformasional, intinya adalah sebuah praktek yang dilakukan pemimpin dalam mempengaruhi dan menggerakkan pengikutnya untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Tentu saja, bentuknya ke arah visi yang ideal menurut rakyat.

Sangat mudah untuk memetakan seorang tokoh yang dianggap ideal sebagai pemimpin. Dia punya visi yang jelas, mampu berkomunikasi dengan pengikutnya, memberdayakan serta dapat menyelami persoalan yang aktual di sekitarnya.

Masyarakat juga sudah cerdas dan mampu menilai mana tokoh yang mau menyingsingkan lengan baju dan mana orang yang selalu memandang masalah dari helicopter view.

Memang, jika ada seorang direktur yang doyan turun kebawah mengatasi problem terkesan tidak percaya kepada manajer-manajer menengah. Faktanya, ada masalah-masalah riil di masyarakat yang kerap terdistorsi saat sampai di meja sang pengambil keputusan.

Kita tidak perlu alergi terhadap perubahan. Setiap individu punya keahlian sebagai agent of change. Sejak lahir hingga dewasa, setiap orang mengalami perubahan dalam hidupnya. Dulu menganggur, misalnya, sekarang bekerja di perusahaan swasta. Dulu bujangan, sekarang sudah berkeluarga.

Ini berarti setiap manusia secara tak sadar telah menjadi agen perubahan sepanjang rentang kehidupannya, dengan kata lain tanpa disadari sudah kompeten mengalami dinamika hidup yang penuh tantangan dan terus berubah. Hanya saja kita belum berkesempatan secara sadar duduk merenung untuk memahami rumus dalam perubahan tersebut yakni memiliki tujuan yang jelas, ada proses dan waktu, serta perilaku dan mindset yang baru yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan baru.

Itulah arti kongkrit dari revolusi mental yang sebenarnya harus ada; mindset dan perilaku baru yang sesuai untuk mencapai tujuan baru. Sama seperti masa anak dan masa dewasa, yang merupakan dua kondisi yang berbeda dan pastinya memiliki perilaku berbeda pula.

Pakar manajemen dari Harvard, John P. Kotter mengidentifikasi delapan langkah yang dilakukan agent of change dalam melakukan perubahan. Pertama, membangun keinginan perubahan dalam diri orang lain. Kedua, membentuk kelompok yang mendorong orang lain untuk berubah.

Ketiga, memiliki visi yang dapat memandu orang lain untuk melakukan perubahan. Keempat, mengkomunikasikan visi tersebut berulang kali supaya tertanam di benak setiap orang. Kelima, menghilangkan sistem usang yang menghambat tujuan.

Keenam, merayakan setiap perubahan sekecil apapun. Selanjutnya, mengkonsolidasikan perbaikan dan menghasilkan lebih banyak perubahan. Terakhir, melembagakan pendekatan baru serta menjadikannya bagian dari budaya dan rutinitas.

Nah, biasanya yang menawarkan ide cemerlang untuk melakukan perubahan sosial datangnya dari kawula muda. Pembaru muda ini bersemangat mewujudkan gagasan inovatif dan kreatif yang membedakan dirinya dengan orang-orang tua yang sudah berada di zona nyaman.

Wajar saja jika Ahok banyak melantik anak-anak muda seperti Debby Novita Andriani (26), Lurah Tanjung Barat, Jakarta Selatan, atau Ari Kurnia (31), Lurah Jatipulo, Jakarta Barat. Mereka mungkin dipandang sebelah mata dari sisi pengalaman birokrasi, tapi yang pasti keduanya boleh jadi punya keberanian melakukan perbaikan dan menjadi agen perubahan di dunia birokrasi. (*)

 

Pelatihan atau training soft skill ini mencakup area yang luas seperti Kepemimpinan, manajerial dan perubahan perilaku :

outbound-training-jakarta

pelatihan-training-revolusi-mental

pelatihan-training-revolusi-mental

pelatihan-training-revolusi-mental

 

Uniknya Modul Training soft skill dapat di customized sesuai dengan kondisi dan tantangan riel dalam perusahaan, berikut adalah berbagai modul pelatihan soft skill yang dapat anda pilih sesuai kebutuhan :

Training soft skill,Ā Training kepemimpinan, Pelatihan Communication Skill, Pelatihan komunikasi Asertif, Pelatihan Presentation Skill, Pelatihan customer Service, Pelatihan entrepreneur, Pelatihan pelayanan pelanggan, Pelatihan Public Speaking, Pelatihan TOT, Pelatihan masa persiapan pensiun, Pelatihan Interpersonal Skill, Pelatihan kepemimpinan.