Pentingnya Investasi Soft Skill Bagi Perusahaan

Program  pelatihan dan pengembangan SDM meliputi kompetensi yang bersifat teknis dan juga Kompetensi Soft skill, kedua kompetensi ini sangat dibutuhan oleh profesi apapun, hubungi 08111913355, 081514904676, untuk konsultasi gratis membuat program yang customized.

Kompetensi adalah ukuran seorang profesional untuk dapat sukses melakukan tugas di posisinya, kompetensi sendiri merupakan muara dari tiga faktor, pengetahuan, ketrampilan dan Sikap, pada pelatihan dan pengembangan SDM modul di rancang untuk menjawab ke tiga faktor itu sehingga membentuk kompetensi yang di inginkan.

Artikel di bawah ini sengaja kami sediakan untuk memberi ilustrasi betapa pentingnya kompetensi Soft skill ini sehingga dalam membuat program pelatihan pengembangan SDM hal ini penting untuk mendapat perhatian

 

Pentingnya Investasi Soft Skill Bagi Perusahaan

Klub sepakbola asal Inggris, Liverpool FC, punya harapan besar saat membeli Mario Balotelli dari AC Milan seharga 16 juta pounds atau Rp 317 miliar. Super Mario -panggilan Balotelli- dinilai dapat menggantikan ketajaman Luis Suarez yang mampu mencetak 82 gol dari 132 pertandingan. Belakangan, Liverpool seakan menyesal mendatangkannya.

Alih-alih menggantikan peran Suarez yang berlabuh ke Barcelona, Balotelli malah lebih banyak bertingkah konyol ketimbang menceploskan bola ke gawang lawan. Bolos latihan gara-gara ingin beli ponsel baru, pesta sambil menenggak minuman beralkohol dan merokok, bersitegang dengan pemain dan pelatih, adalah beberapa contoh kelakuan negatif pemain bergaji 90.000 pounds per pekan atau Rp 1,7 miliar tersebut.

Soal kemampuan teknis dan pengetahuan dalam mengolah kulit bundar, tak ada yang meragukan kemampuan Balotelli. Striker asal Italia itu pernah berhasil mengumpulkan 26 gol dari 43 kesempatannya bermain bersama I Rossoneri – julukan AC Milan- pada Januari 2013 hingga Juli 2014 lalu, sebelum dilepas ke Liverpool. Namun, tingkah lakunya seakan tidak menunjukkan seorang atlet profesional, baik di dalam maupun di luar lapangan. Si bengal juga tidak konsisten dalam performa serta lemah dalam berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain.

Maka tak heran jika banyak pihak yang menganggap pemain kelahiran 12 Agustus 1990 itu tidak kompeten dalam menjalankan tugas sebagai pencetak gol, sehingga dicoret dari timnas. Toh, timnas Italia baik-baik saja tanpa Mario Barwuah Balotelli. Mereka bahkan memastikan lolos kualifikasi Piala Eropa 2016 Prancis dan berpeluang menyandang status sebagai juara grup I.

Balotelli punya kemampuan teknis dan pengetahuan yang mumpuni, tapi lemah dalam soal soft skill. Inilah yang membuatnya tidak dianggap sebagai seorang yang profesional. Jenis pekerjaan apa pun, apabila ingin disebut sebagai profesional, harus memiliki dua hal dalam menjalankan fungsinya yakni kompetensi teknis dan konsistensi.

Pada dasarnya kompetensi teknis itu sendiri bermuara pada tiga aspek yang mendasar yaitu pengetahuan yang diaplikasikan pada tindakan nyata, keterampilan teknis, dan perilaku atau attitude. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh. Jika salah satu tidak dimiliki maka orang tersebut berarti tidak kompeten dalam melakukan pekerjaannya.

Dibutuhkan Untuk Sukses

Kemampuan teknis, yang juga biasa disebut hard skill, ternyata tidak bisa berjalan dengan baik tanpa adanya kompetensi mengelola diri dan orang lain atau soft skill. Bayangkan seorang supir yang ahli mengemudi kendaraan, paham mesin, dan mengerti jalan, tapi mudah emosi dan ugal-ugalan di jalan raya. Alhasil sang bos merasa tidak nyaman dan ingin segera  menyingkirkannya.

Pengalaman empirik menunjukkan bahwa pelatihan dan pengembangan SDM dengan memasukan kompetensi soft skill semakin dibutuhkan saat posisi seseorang dalam perusahaan semakin tinggi. Ini bukan berarti kemampuan teknis kurang penting. Namun, ketika seseorang naik jabatan, maka pekerjaan teknis praktis dilakukan oleh anak buahnya.

Seorang pemimpin dibutuhkan keahliannya dalam memotivasi karyawan, menginspirasi, mengarahkan, memonitor anak buah, kemampuan presentasi dan negoisasi, dan sebagainya. Jadi, soft skill dan keahlian konseptual semakin diperlukan oleh para pengambil keputusan di perseroan.

Sayangnya, berdasarkan pengalaman empirik lagi, sebagian besar perusahaan lebih gemar berinvestasi dalam peningkatan kemampuan teknis jika dibandingkan dengan non-teknis atau soft skill.  Perusahaan-perusahaan elektronik dan otomotif di Indonesia, misalnya. Mereka lebih suka membuat pelatihan peningkatan pengoperasian mesin, penerapan SOP (standard operating procedure), atau reward system, yang dianggap sangat berpengaruh signifikan terhadap produktivitas perseroan.

Investasi pelatihan dan pengembangan SDM yang mengarah soft skill dipandang sebelah mata. Ada kekhawatiran bahwa karyawan yang sudah diberi bekal soft skill gampang pindah ke perusahaan lain begitu kemampuan komunikasinya meningkat. Perusahaan merasa rugi. Sementara pekerja yang  dikasih pendidikan pengoperasian mesin, belum tentu keahliannya dibutuhkan di tempat lain karena tiap perusahaan punya mesin berbeda.

Sejatinya, jika sebuah perusahaan ingin jadi juara, kemampuan teknis dan non-teknis dianggap sama-sama penting. Survei National Association of College and Employee (NACE) di Amerika Serikat pada 2002 mengungkapkan fakta bahwa indikator terpenting dari pemenang adalah kemampuan komunikasi, integritas, kerja sama, dan etika.

Bahkan, hasil penelitian Universitas Harvard menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang tidak semata ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill), tetapi juga keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Kemampuan teknis hanya menentukan 20 persen kesuksesan seseorang, sedangkan sisa 80 persennya ditentukan oleh kemampuan soft skill.

Banyak persoalan yang muncul di perusahaan ujung-ujungnya karena kelemahan kemampuan non-teknis sang pemimpin.  Para bos yang punya masalah komunikasi intrapersonal pasti berdampak terhadap turunnya tujuan utama perseroan.

Cara mengidentifikasinya mudah; sebuah tugas yang didelegasikan ke anak buah tapi kembali muncul di meja bos tanpa ada solusi yang mumpuni atau bahkan tidak dikerjakan sama sekali. Perusahaan harus segera mengambil tindakan pembenahan soft skill para manajernya. Perbaikan soft skill bagai air untuk mandi, harus dari atas ke bawah.

Sekali lagi, ini bukan soal mana yang lebih penting; ayam atau telur. Tuntutan kompetensi menyangkut aspek teknis atau hard skill dan non-teknis atau soft skill, sama-sama penting bagi perusahaan.

Mobil tercanggih sekalipun dalam jangka panjang akan rusak apabila jumlah oli tidak sesuai standar. Jadi, perusahaan tanpa investasi soft skill berarti jumlah pelumasnya kurang. Tidak terasa dalam jangka pendek, tapi menghancurkan di masa depan, karena itulah penting menyeimbangkan kedua kompetensi ini dalam program pelatihan dan pengembangan SDM(*)

Berikut adalah pengelompokan Kompetensi Soft skill :

pelatihan-pengembangan-SDM

Untuk melengkapi kebutuhan Pelatihan dan pengembangan SDM kami menyediakan berbagai modul yang dapat di customized sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan tantangan riel dalam perusahaan.

Pelatihan dan pengembangan SDM, Pelatihan soft skill, Pelatihan Leadership, Pelatihan kepemimpinan dasar, Pelatihan leadership Jakarta, Pelatihan leadership Skill, Pelatihan revolusi Mental, Pelatihan change management, Pelatihan Coaching, Latihan Dasar Kepemimpinan, Training kepemimpinan efektif, Training revolusi mental, Outbound Kepemimpinan, Leadership Training.