Profesional Tanggung, Bagaimana Bisa?

Pelatihan dan pengembangan SDM adalah program yang di rancang untuk membuat profesional menjadi lebih efektif dalam bekerja, terlebih lagi bila dapat di customized sehingga sesuai dengan tantangan dan kondisi riel dalam perusahaan, hubungi 08111913355, 081514894676.

Program yang di bangun dalam pelatihan dan pengembangan SDM biasanya mencakup komponen kompetensi teknis dan soft skill, banyak profesional yang terjebak hanya menguasai kompetensi teknis, padahal dalam bekerja sehari-hari di pastikan berinteraksi dengan berbagai macam tipe orang.

Pesan yang kami ingin sampaikan dalam artikel di bawah ini, adalah menjadi profesional seutuhnya sebaiknya menyeimbangkan ke dua kompetensi ini dan investasi dalam pelatihan pengembangan SDM adalah sesuatu yang sangat penting dan pasti bermanfaat untuk pengembangan karyawan baik di posisi saat ini maupun pada kebutuhan promosi.

Profesional Tanggung, Bagaimana Bisa?

Pemerintah baru-baru ini merekrut 47 tenaga kehumasan profesional. Mereka dipercaya bakal mendorong keberhasilan kerja pemerintahan dan membantu Kementerian / Lembaga menyebarkanluaskan informasi melalui berbagai saluran komunikasi kepada masyarakat. Derasnya arus komunikasi dan informasi membuat pemerintah melakukan langkah tersebut.

Pertanyaannya, bukankah biro humas telah ada semenjak Kementerian/Lembaga didirikan? Apakah ini berarti pegawai negeri sipil di bidang public relations yang telah mengabdi selama bertahun-tahun tidak melakukan pekerjaannya secara profesional?

Saya tidak ingin larut dalam perdebatan tersebut. Yang pasti, Peter Jarvis, Corgan, atau Eric Hoyle, punya definisi sendiri dalam mengartikan kata profesional, termasuk Malcolm Gladwell yang berpendapat bahwa seseorang dianggap ahli dalam bidangnya setelah melakukan pekerjaan yang sama sebanyak 10.000 jam atau sekitar 5 tahun. Apapun itu, profesionalitas selalu merujuk pada keahlian khusus, kemampuan, atau kehebatan seseorang dalam bidang tertentu.

Dalam mencari nafkah kita juga bisa dibilang profesional. Mengapa? Pengusaha memberikan penghargaan kepada karyawan berdasarkan seberapa besar tingkat keahliannya. Semakin profesional sang pekerja, makin besar pula imbalannya.

Namun batasan tingkat profesionalisme ini kerap menimbulkan perselisihan antar kedua belah pihak. Pekerja merasa keahlian harus dibayar lebih mahal seiring dengan lamanya bekerja, sementara pengusaha mendasarkan pada besaran kontribusi terhadap perusahaan yang sejatinya berdampak terhadap peningkatan gaji. Perbedaan cara pandang ini dapat menimbulkan sikap negatif seperti demotivasi, ketidak puasan dan berbagai alasan untuk penyelewengan pekerjaan.

Berkaca dari persoalan diatas, seorang profesional ternyata tidak cukup dengan hanya memiliki kompetensi baik dalam sebuah bidang. Pertama, dia harus juga menghasilkan kontribusi terhadap perusahaan. Jadi, kompetensi hanya dipandang sebelah mata jika tanpa hasil yang nyata.

Kedua, soal konsistensi. Ini ada kaitannya dengan attitude atau perilaku. Percuma ada seorang ahli yang punya kemampuan hebat tetapi hasilnya tergantung mood, yang bagus tidaknya kinerja ditentukan oleh faktor eksternal. Jadi, kompetensi merupakan muara dari pengetahuan, keterampilan, dan attitude.

Orang yang senior dalam sebuah organisasi belum tentu profesional dalam bidangnya. Boleh jadi pegawai tersebut hanya mengulang pekerjaan yang sama selama 15 tahun. Hasilnya, ya itu-itu saja, tanpa ada perubahan signifikan. Lantas pegawai tersebut secara tak sadar menganggap bahwa dirinya paling profesional diantara rekan-rekan yang lain sehingga layak untuk naik jabatan. Mindset inilah yang terjadi di banyak perusahaan atau institusi pemerintah.
Nah, bagaimana mengubah pola pikir atau Mindset yang telah mengakar di tempat kerja tersebut, baik di pemerintah maupun swasta?

Pengalaman empirik menunjukkan bahwa pengembangan kemampuan non-teknis atau soft skill tetap dibutuhkan bagi para pegawai dengan kemampuan teknis tinggi. Karena bagaimanapun akhirnya setiap profesional yang telah diberikan kemampuan soft skill bakal memiliki cara pandang yang baru mengenai profesinya, mampu berinteraksi dengan lebih efektif, mampu mengendalikan emosi, mampu menyampaikan ide dengan mudah, mampu mempersuasi orang lain dengan elegan sehingga berdampak positif terhadap orang lain di lingkungan kerja.

Senior dalam organisasi dibekali kemampuan memotivasi, mengarahkan, dan menginspirasi, para juniornya dengan kata-kata dan bahasa tubuh yang persuasif sehingga dapat diterima dengan baik di semua lini pekerjaan. Dengan begitu sang pegawai menemukan sisi kemanusiaannya, tidak lagi bekerja bagaikan robot yang rutin bekerja dalam pekerjaan yang sama setiap hari.

Sayang, banyak institusi pemerintah atau swasta yang enggan mengeluarkan anggaran untuk melakukan pengembangan soft skill. Mereka banyak terjebak pada pengembangan kemampuan teknis sesuai fungsinya karena hasilnya lebih nyata dalam jangka pendek terjadilah situasi profesional tanggung, Ketika ada kebutuhan mendesak terkait sumber daya manusia yang mampu menjadi pemimpin dalam sebuah tim, barulah kemampuan non-teknis terasa amat dirindukan dan nyatanya seringkali muncul Gap antara kebutuhan leader dan keterbatasan sumber daya yang tersedia.

Tidak hanya bidang kehumasan pada dasarnya hampir semua profesi membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan komunikasi, integritas, kerja sama, dan etika. Itu semua merupakan bagian dari kemampuan soft skill. Dengan kata lain setiap professional bukan hanya terus membangun kompetensi teknis nya saja namun juga harus memperkaya soft skill-nya, barangkali inilah bagian dari upaya kongkrit revolusi mental yang selama ini di dengungkan, bagaimana seorang profesional mampu memimpin, mengelola dan berperilaku sesuai dengan konteksnya dan membawa dampak manfaat secara ekologis, artinya bukan hanya win-win antara dirinya dan orang lain namun win-win-win, antara dirinya, orang lain dan Lingkungan semua mendapat manfaat tanpa ada norma atau kepentingan yang di langgar dan tidak berakhir di KPK oleh karenanya mengapa harus menjadi profesional tanggung? (*)

 

Pelatihan dan pengembangan SDM mencakup area kompetensi soft skill yang sangat beragam, namun pada dasarnya dapat dikelompokan menjadi 3 bagian besar yaitu: How to Lead, Manage and Behave :

pelatihan-pengembangan-SDM

Kami specialist untuk pelatihan dan pengembangan SDM dengan berbagai modul yang dapat di Customized seperti :

Training soft skill, Training kepemimpinan, Pelatihan Communication Skill, Pelatihan komunikasi Asertif, Pelatihan Presentation Skill, Pelatihan customer Service, Pelatihan entrepreneur, Pelatihan pelayanan pelanggan, Pelatihan Public Speaking, Pelatihan TOT, Pelatihan masa persiapan pensiun, Pelatihan Interpersonal Skill, Pelatihan kepemimpinan.