Paket Team Building dan artikel menarik

Kali ini Paket team building akan berbagi pengetahuan tentang team, bila anda membutuhkan provider team building plus Jasa EO hubungi 08111913355, 081514894676.

paket-team-building

paket-team-building

paket-team-building

 

How to initiate Team Building through Outbound training?
Oleh Yumei Sulistyo Psi.MM.MNLP

Tentu kita semua pernah melihat team sepak bola bertanding di lapangan hijau, bila kita melihat team sepak bola yang terdiri dari sebelas pemain itu, apa yang terpikir oleh kita? Kebanyakan kita membayangan kesebelasan kita keluar sebagai pemenang pada pertandingan itu atau mungkin juga kita senang menyaksikan permainan sepak bola kelas dunia yang berkualitas, fair tidak ada baku hantam ditengah lapangan, singkat kata pertandingan itu menyuguhkan tontonan yang enak dan mengasyikan dilihat, marilah sejenak kita lihat dari sisi yang lain belajar bagaimana arti sebuah team agar kita dapat membangun team yang efektif.

Setiap kesebelasan sepak bola, terdiri dari sebelas pemain dengan peran dan tugas masing-masing sebut saja ada penjaga gawang, ada penyerang tengah, pemain sayap, gelandang kiri dan kanan mereka ini menempati posisinya masing-masing sesuai dengan tugasnya dan kalau dilihat dalam permainan sepak bola, peluang terbesar untuk membobol gawang lawan terutama adalah penyerang tengah walaupun terbuka kemungkinan pemain belakang bisa juga membuat goal, namun pada umumnya pemain penyerang inilah yang mendapat penghargaan sebagai pencetak goal terbanyak, seperti pemain termahal dan terkaya didunia saat ini CR7 atau Christiano Ronaldo yang bahkan mendapat penghargaan bergengsi seperti Ballon D’or berturut-turut pada musim kompetisi saat ini, sebagai bukti kecemerlangannya dalam mencetak gol terbanyak hingga dihadiahi Bola Emas, pertanyaannya adalah, mengapa harus dia sendiri, padahal dia bisa mencetak goal juga karena kerja keras 10 pemain yang lain? Meskipun klub sepak bola itu mendapat nama, namun sepertinya dia adalah pemain terbaik diantara 10 pemain lainnya, seolah-olah 10 pemain lainnya hanya berjuang untuk kemashuran satu orang saja, Adilkan situasi seperti ini? Kalau terus seperti ini bukankah semua orang akan berebut untuk menjadi Pemain penyerang tengah seperti CR7, namun kenyataannya ini tidak terjadi, pemain yang lain menerima kenyataan ini apa adanya dan tetap bermain baik sebagaimana seharusnya.

Contoh lain adalah Team Formula One, pernah melihat bagaimana ajang balapan mobil formula one yang sangat megah dan tontonan kelas dunia yang luar biasa hebatnya, dimana kemenangan kadang hanya ditentukan oleh waktu seper sekian detik, kecepatan adalah segalanya dengan dukungan team kerja yang handal dan teknologi tinggi bahkan menganti ban mobil dan mengisi bahan bakar secara bersamaan hanya dalam hitungan detik saat mobil formula masuk pit dan keluar lagi untuk melanjutkan balapan semua dilakukan kurang dari 10 detik saja, team ini jumlahnya besar dan terdiri dari orang-orang yang sangat kompeten dibidangnya, sangat kompak dan cekatan, namun saat sang pembalap masuk finis terlebih dahulu dialah yang mendapat sanjungan, pujian dan penghargaan tertinggi, menjadi bintang iklan, mendapat bayaran yang super mahal, meskipun nama team juga terangkat, sementara anggota team formula one yang lain harus puas untuk bertepuk tangan dengan gembira, padahal sukses seorang pembalap juga ditentukan oleh puluhan anggota team dengan dukungan kerjasama yang sangat prima luarbiasa, pertanyaannya adalah adilkah kondisi seperti ini satu orang yang mendapat nama besar, pujian diatas kerja dan keringat orang lain?

Ada contoh yang lebih ekstrem lagi tentang kondisi team kerja, pernahkan terpikir oleh kita, Coba bayangkan sebuah bangunan yang bernama piramida diMesir yang telah berdiri dengan begitu kokohnya hingga ribuan tahun, sejenak cobalah berpikir bagaimana Piramida yang sangat agung itu dibangun, bayangkan dikala itu ketika teknologi belumlah sehebat sekarang ini, bagaimana harus mengerahkan para pekerja yang jumlahnya ratusan ribu bergerak dalam satu team yang kompak untuk mewujudkan impian sang Fir’aun… banyak korban berjatuhan dalam proses pembangunannya, banyak pekerja yang mati karena kelelahan, kelaparan, mati dicambuk, disiksa, ribuan juga mungkin jumlahnya, pertanyaannya apakah untuk mewujudkan ambisi sang Fir’aun harus dengan perlakuan yang represif seperti ini?, menghasilkankan suatu karya diatas penderitan orang lain.

Pada contoh pertama kesebelasan sepak bola, menggambarkan bagaimana segelintir orang mendapatkan kemungkinan lebih besar untuk memperoleh kemasyuran, dicontoh kedua Team Formula One, jelas hanya seorang yang bakal keluar sebagai bintang dan meraih ketenaran yaitu sang pembalap, sedangkan pada contoh terakhir membangun Piramida adalah memperoleh kemegahan diri diatas penderitaan orang lain, jadi Team seperti apakah yang kita inginkan sebenarnya?

Pada tahap ini tentu anda sudah mulai melontarkan berbagai argument tentang ketiga contoh situasi team di atas, sabar dulu, simpan argumen anda, marilah sejenak kita bahas konsep sebuah team dan melihat dari perspektif yang berbeda, dari contoh sebelumnya sebenarnya konsep team sudah ada sejak jaman dahulu kala, hingga kini yang namanya team ya tidak berubah, yang berubah dan berkembang adalah pengertian dan pemahaman kita tentang team itu sendiri, marilah kita telaah satu persatu.

Pengertian team
Bila anda mendengar kata team, apa yang terlintas dalam benak anda? Apapun jawaban anda bedakan pengertian team dengan group, keduanya mengindikasikan adanya sekelompok orang yang berkumpul dalam suatu situasi tertentu, artinya sebuah team pastilah sebuah group, bedanya adalah group hanya kumpulan orang yang tidak memiliki tujuan bersama yang jelas, seperti misalnya, kumpulan orang yang setiap hari bersama bertemu dikereta komuter atau sekumpulan orang yang sedang bersosialisasi disebuah kafe yang secara kebetulan bertemu disana dan menghabiskan waktu bersama karena kepenatan kerja misalnya atau sekumpulan orang yang sedang makan siang bersama itulah contoh group, sedangkan Team memiliki pengertian yang berbeda, ada berbagai difinisi team diberikan oleh para pakar, John Katzenbach and Douglas Smith (1993) mengatakan :

“Team is small group of people with complementary skill commited to common purpose and set of specific performance goals”,

Team adalah sekumpulan orang dengan ketrampilan yang saling melengkapi yang bersepakat untuk mencapai tujuan dan target kinerja yang spesifik, dari difinisi itu ada beberapa pengertian dasar, sebuah team bisa terdiri dari kelompok dua orang atau lebih, memiliki tujuan bersama, masing-masing saling berinteraksi dan menjalankan peran masing-masing dan melebur dalam satu identitas team.

Team bisa dibentuk sesuai dengan keperluan dan tujuannya seperti team kerja, team sport, team medis, team quality, team inovasi, team development dan berbagai bentuk team lainnya sesuai dengan kebutuhan, menurut tipenya team bisa berarti :
• Team fungsional misalnya team management, team IT, team Medis yang dibentuk, bekerja dan mencapai tujuan sesuai fungsinya.
• Team virtual, team ini dibentuk untuk mengatasi kendala geografis dengan mengunakan sarana IT sebagai medium berinteraksi, seperti misalnya team Supply Chain Core Competency yang terdiri dari para Supply chain manager di beberapa negara yang bertugas untuk merumuskan kompetensi model dibidang supply Chain.
• Team cross functional team, dari namanya jelas tim ini terbentuk untuk menyelesaikan satu project tertentu namun anggotanya terdiri dari berbagai fungsi atau bagian dalam sebuah perusahaan, seperti Panitia dan Team Perumus
• Self managed team, hampir sama seperti functional atau cross functional team bedanya team ini diberi wewenang dan tanggung jawab tertentu dan mencapai tujuan tertentu dengan sumber daya hasil upaya sendiri.
• Problem solving team, team yang dibentuk saat terjadi krisis atau ada masalah besar yang harus diselesaikan
Jadi bisa kita disimpulkan karakteristik sebuah team adalah :
• Memiliki tujuan bersama yang jelas
• Memiliki identitas team, seperti nama yang merefleksikan keberadaan sebuah team
• Memiliki struktur dan pembagian tugas yang jelas
• Setiap anggota team merasa dan memiliki keterikatan beradaan dalam sebuah team

Dysfungsi team
Sebagai professional atau leader ditempat kerja pastilah kita sering dihadapkan pada kebutuhan untuk membentuk team (Team Building) seperti team kerja, dengan memahami berbagai pengertian dan konsep team tentu ini akan semakin menambah keyakinan diri untuk sukses mencapai tujuan yang menjadi tanggung jawab seorang Leader, untuk membentuk sebuah team yang efektif cobalah sejenak kita bahas faktor apa sajakah yang bisa membuat keberadaan sebuah team menjadi tidak berfungsi.
Patrick Lencioni (2002) mengatakan ada lima faktor yang dapat menyebabkan sebuah team menjadi disfungsi atau tidak berfungsi :
1. Kurangnya perhatian terhadap hasil
2. Ketidak jelasan fungsi dan tanggung jawab
3. Rendahnya komitmen
4. Menghindari konflik atau takut berbeda pendapat
5. Tidak ada kepercayaan

Dari poin 1 jelas mengindikasikan bahwa sebuah team memang seharusnya memiliki sebuah tujuan yang sangat jelas dan diamini oleh seluruh anggota team, pada kenyataannya tidak demikian, banyak yang tahu tujuan namun motivasi dan semangat anggota team berbeda dalam mengejar tujuan itu, artinya tahu tujuan karena diberitahu namun belum tentu menerima dengan sepenuh hati, boleh jadi keberadaannya dalam sebuah team karena perintah, keterpaksaan atau tidak memahami sepenuhnya mengapa ia berada didalam sebuah team, sehingga hal ini membuat anggota team itu tidak sepenuhnya mau mencurahkan segenap kemampuannya untuk mencapai tujuan team, dengan kata lain sebetulnya dia belum mengerti apa manfaatnya bagi dia sendiri berada dalam sebuah team. Ini persoalan yang paling sering ditemui dalam organisasi, banyak karyawan yang tidak memahami pentingnya Visi perusahaan sebagai salah satu perekat kebhinekaan dalam sebuah team dengan kata lain mungkin juga karena tujuan ini gagal dikomunikasikan keseluruh anggota team sehingga gagal untuk memahami manfaat bagi dirinya dan hanya memandang sebelah mata saja terhadap tujuan team karena tidak mewakili kepentingannya.

Kemampuan leader dalam mengkomunikasi secara persuasive tujuan team sangatlah penting apalagi ditambah dengan teknologi NLP (Neuro Lingusitic Programming) kita bisa menggunakan teknik Cartessian Coordinate untuk menginstall tujuan ini sampai kelevel emosi, sehingga tujuan ini tidak hanya manis dipresentasikan namun bisa membuat emosi cetar membahana, menginspirasi dan memotivasi anggota team untuk bersama meraihnya.

Ketidak jelasan fungsi dan tanggung jawab juga bisa merupakan faktor penyebab gagalnya sebuah team berfungsi, akibatnya terjadi kondisi saling menunggu dan bersikap pasif karena takut salah atau ragu berkontribusi, pembagian peran dan tanggung jawab, memang seharusnya sudah diberikan sejak awal, sehingga setiap orang tahu apa yang diharapkan dan kontribusi apakah yang diinginkan, dalam organisasi biasa disebut Job Description atau yang lebih powerfull dengan menggunakan Position profile.

Apakah dimungkinkan satu orang dalam anggota team merangkap beberapa fungsi? Tentu saja dapat dalam sebuah team kecil kemungkinan dapat terjadi peran rangkap sepanjang sesuai dengan kemampuan dan jelas yang diharapkan mungkin saja terjadi, dalam sebuah team yang lebih besar kadang terjadi adanya dominasi dari satu atau dua orang yang mencoba mempengaruhi peran anggota team lainnya sehingga orang itu merasa diintervensi, sehingga perlu juga untuk sejak awal disepakati batas wewenang dan tanggung jawabnya.

Tentu banyak alasan dibalik tindakan ini misalnya seorang pemimpin yang mengambil alih pekerjaaan anak buahnya karena tidak kunjung selesai atau selesai namun tidak seperti yang diharapkan, karena tidak sabar dikejar target waktu sehingga dengan terpaksa diambil alih, bisa juga karena gaya kerja dalam menyelesaikan tugasnya tidak sesuai dengan gaya kerja sang leader, mungkin juga karena tidak ada orang yang mau masuk dalam team sehingga orang itu ditunjuk tanpa mempertimbangkan kemampuan dan kesanggupannya dalam menjalankan fungsi kerjanya. Apapun alasannya, kejelasan fungsi dan tanggung jawab sejal awal adalah penting bagi sebuah team kerja.

Rendahnya komitmen memang persoalan yang sering terjadi, pada mulanya saat diminta berkomitmen untuk mencapai goal masing-masing semua berkata sanggup, pada prosesnya hambatan sepanjang jalan menuju tujuan bermunculan, bentuk hambatan pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua bagian besar, ada hambatan yang bersifat teknis dan ada hambatan yang bersifat mental, hambatan teknis bisa berupa kurangnya informasi hingga cara menghadapi terbatasnya alat bantu kerja seperti mesin dan peralatan lainnya, hambatan teknis tidak cukup diselesaikan dengan semangat saja perlu pendekatan teknis, dari berbagai hambatan atau tantangan dalam mencapai sasaran justru yang sering terjadi adalah hambatan mental, seperti rasa bosan, ragu-ragu, setengah hati, takut mengambil keputusan, kurang mampu mengkomunikasikan ide pada rekan kerja dan rendahnya kemampuan menempatkan diri pada situasi yang baru atau orang lain atau lingkungan, bisa juga karena tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, pembuatan rencana kerja, Leader pada situasi ini juga sering salah langkah dalam mengambil solusi, komitmen yang rendah untuk menghasilkan kinerja yang diharapkan bisa berpangkal pada masalah kemauan atau kemampuan, sering ketika bawahan atau team kerja menghadapi hambatan, atasan memberi motivasi untuk bangkit dan bertindak untuk menyelesaikan tugasnya, namun persoalan sebenarnya bukan pada masalah kemauan sehingga dia tidak butuh motivasi namun pada persoalan kemampuan yang barangkali belum memadai untuk menyelesaikan tugasnya, sehingga sia-sia saja diberi motivasi, sama seperti memberi salah obat yang akhirnya tidak mengena, banyak cara untuk meningkatkan komitmen team kerja, ingatkan kembali pentingnya mencapai tujuan team dan manfaatnya atau apa yang didapat oleh anggota team, munculkan kebanggaan bila bersama bisa mencapai tujuan, apa yang akan terjadi bila tujuan team tidak tercapai? bentuk manfaat yang didapat bisa berbagai bentuk dari yang bersifat financial hingga non-financial, seperti kebanggaan, kepuasan, pengalaman dan pengembangan diri. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan komitmen adalah keterlibatan dalam setiap prosesnya, seperti kata orang bijak “No Involvement – No Commitment” meskipun dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun seperti mengkomunikasikan setiap perkembangan dan berbagi ide bagaimana mengatasi setiap tantangan, tanyakan pendapat dan libatkan dalam pengambilan keputusan.

Team yang sehat memungkinkan setiap anggota bebas memberikan pendapat bahkan jika berbeda pendapat sekalipun, tekanan waktu sering dijadikan alasan untuk mem by pass pendapat anggota team agar cepat mengambil keputusan, pada situasi krisis pengambilan keputusan yang cepat barangkali penting dilakukan namun pada keadaan biasa bila ini terus dilakukan membuat anggota team hanya pasif menunggu, bukankah arti dari decision making adalah proses pengambilan keputusan mulai dari identifikasi masalah, hingga mencari dan memutuskan alternative yang terbaik? Kebebasan berpendapat memungkinkan timbulnya kaya alternative, apa yang terjadi bila anggota team tidak berani menyampaikan pendapat? atau pendapat, pandangan dan idenya selalu dianulir sehingga terjadi pengalaman yang tidak mengenakan, bukan tidak mungkin situasi ini membuat dirinya menjadi pasif, hanya sekedar menunggu dan lebih parah lagi mulai muncul kasak kusuk ketidak puasan dibelakang layar, potensi untuk memunculkan ide-ide atau gagasan besar menjadi terhambat.

Faktor kebebasan dalam memberikan pendapat bisa dari faktor diri anggota team yang kurang percaya diri untuk menyuarakan aspirasinya atau mungkin juga karena faktor lingkungan yang menekan keberaniannya untuk berpendapat, bisa juga team leader atau anggota team lain yang merasa dirinya senior atau paling berpengalaman yang kadang hanya dirinya yang merasa betul dan selalu ingin didengar, namun apapupun alasannya, kondisi dalam team yang tidak sehat ini harus dihindari agar setiap angota team benar-benar memberi kontribusi terbaiknya tanpa merasa ada hambatan, cara terbaik dalam mengatasi situasi ini adalah kesepakatan bersama untuk saling menghargai, menghormati perbedaan pendapat atau ide dan selalu fokus pada kepentingan dan tujuan bersama, peran team leader sangatlah penting untuk menjadi contoh bagaimana mampu menghargai perbedaan pendapat dan memiliki kemampuan mengatasi perbedaan pendapat yang bisa mengarah pada konflik, kalaupun terjadi konflik lakukan secara terbuka artinya tidak perlu ditutup-tutupi hingga terbawa ke ranah pribadi lantas bagaimana caranya menghadapi konflik yang terjadi ? ada banyak cara, bila perbedaan pendapat dampaknya kecil terhadap tujuan, kadang bisa diabaikan, artinya tidak semua konflik harus ditanggapi serius, namun bila ada dua pendapat yang sama-sama kuat bisa dengan cara berkolaborasi, akomodatif atau kompromi, kalau idenya memiliki dampak terhadap tujuan sangat besar, ambil dan manfaatkan dengan berkolaborasi beri kesempatan untuk anggota team yang mengusulkan untuk memimpinnya, kadang juga perlu kompromi artinya ide ditimbang untung ruginya bersama dan bertujuan untuk meredakan emosi pada saat itu, bisa juga akomodatif karena idenya sangat jitu dan cemerlang, ambil saja semuanya karena kita yakin ide itu sangat bermanfaat.

Rendahnya rasa saling percaya terhadap sesama anggota team juga sangat berpotensi merusak efektifitas team, ketidak percayaan bisa berpangkal pada kredibitas team leader, bisa karena kompetensi yang dibawah standar ataupun karena karakter orang itu yang bermasalah, banyak bicara namun tidak tepat janji atau tidak bisa membuktikan, banyak menyuruh orang lain namun enggan mengerjakan tugasnya sendiri atau bisa juga mengambil kredit atas kerja orang lain sama seperti pribahasa “Sapi punya susu, kerbau punya nama” si A yang sukses mengerjakan tugas dan berhasil namun di klaim seluruh atau sebagian oleh orang lain. Keinginan berprestasi dan berkontribusi setiap anggota team tentulah sangat positif, namun bila menghalalkan segala cara yang berakibat ada orang lain yang merasa dirugikan cepat atau lambat pasti akan menimbulkan masalah, membangun kepercayaan adalah sebuah pertaruhan integritas diri, prosesnya sangat lama dan perlu upaya tinggi hingga orang lain mau percaya, namun runtuh hanya karena satu buah kesalahan, oleh karenanya dalam membangun team atau Team Building, upaya menjaga dan meningkatkan kepercayaan adalah hal yang tidak boleh berhenti karena ini adalah bagian dari pembentukan watak atau karakter sesorang untuk sukses dikemudian hari.

Team Building
Dengan memahami hal-hal apa saja yang dapat membuat sebuah team menjadi tidak berfungsi, maka sekarang saatnya kita bahas bagaimana membangun sebuah team, tahapan apa saja yang dilalui dan apa yang harus dilakukan oleh seorang leader dalam setiap proses perkembangannya? Team yang kompak dan efektif tidak terbentuk secara tiba- tiba, pembentukan team menurut Educational psychologist Bruce Wayne Tuckman, Ph.D. mengatakan ada 4 tahap perkembangan sebuah team yaitu :
• Forming atau tahap pembentukan
• Storming atau tahap pergolakan
• Norming atau tahap penyesuaian normatif
• Performing atau team yang siap untuk menunjukan kinerja

Pembentukan team atau Team Building seperti team kerja diawali dengan merekrut anggota team yang disesuaikan dengan tujuan team itu dibentuk, masing–masing anggota team ini tentu dipilih dengan berbagai pertimbangan seperti kemampuan dan kontribusi yang diharapkan, pada tahap awal pembentukan team, anggota team bisa saja merasa bangga terpilih sebagai anggota team apalagi bila tujuan team yang diharapkan nantinya berdampak besar bagi organisasi, mungkin saja anggota team ini sudah saling mengenal satu sama lain atau mungkin juga anggota team ini hanya tahu nama atau bahkan tidak kenal sama sekali, pada tahap ini kebutuhan untuk saling mengenal satu sama lain adalah sangat penting, selain itu perlu juga dilakukan penyamaan persepsi akan pentingnya tujuan yang akan dicapai dan apa manfaatnya baik bagi organisasi maupun bagi setiap anggota team, pelibatan sejak awal adalah sangat penting untuk menjaga komitmen setiap anggota, setiap ada perkembangan atau ada hal-hal mendasar yang perlu di ketahui setiap anggota team komunikasikanlah, biar setiap anggota team paham akan manfaat dari keterbukaan diantara sesama anggota team, pada tahap ini Team Leaders yang ditunjuk biasanya lebih banyak secara proaktif bergaya directive, berikan informasi yang diperlukan oleh anggota team, meskipun ada pelibatan namun peran leader pada tahap ini sangatkah menentukan. Pada masa ini adalah masa bulan madu, setiap anggota team masih saling menilai, menunggu saat yang tepat untuk berespon, mengumpulkan informasi sebanyak2nya.

Tahap berikutnya adalah storming, saat pekerjaan sudah dimulai, masing-masing berusaha menunjukan kinerja terbaiknya dan mulailah bekerja sesuai dengan gayanya masing-masing, ada yang bertipe dominan, ada yang penuh kehati-hatian, berbagai tipe orang mungkin ada dalam satu team yang besar, pada tahap ini sering terjadi gesekan antar anggota team, mungkin ada yang mengeluh karena kerjanya dipersepsi lambat, mungkin ada yang merasa tidak sabar karena hasil kerjanya menunggu hasil kerja dari anggota team yang lain, pada tahap ini potensi gesekan semakin besar karena adanya tekanan waktu atau sumber daya lain yang terbatas, setiap anggota team tentu berusaha untuk memberi yang terbaik menurut persepsinya masing-masing, tidak jarang pada tahap ini ada anggota team yang merasa lebih hebat dibanding team leadernya bahkan, mulai ada suara suara sumbang atas kinerja Leader atau anggota team yang lain, satu sama lain mungkin kurang puas dengan kinerja salah satu anggota team, sehingga mungkin bermaksud memberi feedback namun karena pola penyampaian bisa saja dipersepsi sebagai kritik yang memanaskan telinga, merasa disalahkan atau dikecilkan perannya dalam team, kemungkinan saling by pass juga bisa terjadi, biasanya terlihat jelas dalam rapat saat membahas sesuatu sering nampak ada anggota team yang jauh lebih dominan sementara anggota team yang lain hanya mengamini, mungkin karena ingin menghindari beda pendapat atau konflik, gaya yang tepat pada tahap ini untuk Team leader adalah bertindak sebagai pembimbing atau Coach, untuk secara bersama-sama memahami persoalan yang timbul dan memberi kesempatan anggota team terlibat mengambil keputusan dan berkomitmen untuk menjalankannya.

Pada tahap norming dimaksudkan adalah mulai terbentuknya tata nilai atau aturan yang disepakati bersama bisa secara tertulis atau umumnya secara normative artinya kesepakatan yang tak tertulis namun mengikat bagi semua anggota team, tahapan ini terbentuk karena antara anggota team sudah saling mengenal, termasuk gaya, kebiasaan dan kemampuan masing-masing anggota, dan mulai menyadari perlunya kerja sama yang semakin kokoh untuk menghadapi tantangan bersama mencapai tujuan, anggota team sudah bisa menerima karakterisktik masing-masing dan tanpa disadari terbentuk suatu kesepakatan dari hasil interaksi selama ini, seperti misalnya apapun yang diperdebatkan selalu mendahulukan kepentingan team diatas kepentingan pribadi, norma lain yang mungkin terbentuk dan disepakati adalah saling mendukung dan mem back up bila salah satu anggota team berhalangan, mengambil alih secara proaktif disaat yang tepat tanpa mengintervesi kewenangan orang lain, keinginan untuk menjaga nama baik team terhadap orang luar. Saling mendorong untuk bekerja sama dan memberi kontribusi yang optimal dari setiap anggota kelompok, pada tahap ini masing-masing anggota sudah memahami tugas dan tanggung jawabnya masing-masing sehingga peran team Leader lebih bersifat mengakomodasi atau memfasilitasi proses diskusi dan kerja untuk kepentingan bersama.

Tahap performing adalah tahapan Team Building yang sangat diinginkan karena pada tahap ini, team benar-benar berfungsi secara efektif, segala daya upaya diarahkan untuk mencapai keberhasilan team secara konsisten, setiap anggota team sudah benar-benar berperan sesuai fungsinya, mereka sudah mengerti dan mampu bekerja tanpa harus diawasi, setiap anggota team memusatkan perhatiannya kepada tujuan team yaitu gawang lawan, saling mendukung dan melengkapi. Setiap keberhasilan dirayakan bukan sebagai prestasi perorangan namun sebagai keberhasilan team, secara sadar mereka membela nama team dengan sepenuh hati karena teamlah yang membesarkan mereka, pada tahap ini keberhasilan team dirayakan bersama, dinikmati bersama dan menempatkan kebanggaan team diatas kebanggan individual. Peran team leader pada tahap ini adalah terus menjaga semangat kerja untuk terus berprestasi dan merayakan keberhasilan-keberhasilan kecil sekalipun atas nama team.

Team dynamic
Membangun dan mempertahankan adalah dua hal yang berbeda, proses membangun team (Team Building)memang membutuhkan waktu, tenaga dan waktu yang tidak sedikit, team yang sudah dipuncak prestasi perlu berhati-hati atau waspada untuk terus menjaga kondisi puncak ini, karena team bisa terjerumus kedalam rasa puas yang berlebihan dan terjebak dalam zona nyaman, pada tahap ini seorang team leader perlu memikirkan bagaimana membuat team untuk menjadi lebih dinamik mampu merespon berbagai tuntutan perubahan, bagaimana caranya agar team yang sudah terbentuk dan perform ini bisa semakin dinamis? Tidak jarang sebuah team yang sedang fokus mengerjakan suatu tugas tertentu, datang tiba-tiba permintaan yang tidak mungkin ditolak mengingat urgencynya, apakah harus tetap fokus dengan goal pertama atau menunggu giliran atau dikerjakan secara simultan hanya itu pilihannya, yang pasti tugas tersebut tidak mungkin dapat ditolak karena datang dari atas, bagi team yang sudah berorientasi pada hasil dan kepuasan pelanggan mau tidak mau hal ini harus diterima, belum lagi bila tiba-tiba anggota team ada yang berhalangan, mengundurkan diri karena berbagai alasan atau perlu penambahan anggota baru sehubungan dengan beban kerja yang meningkat, dinamika bisa berarti kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dari luar atau secara sengaja melakukan menyegaran internal demi mengantisipasi tekanan perubahan yang diperlukan. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, seperti struktur yang fleksible, artinya anggota team dapat merangkap fungsi atau pertambahan tanggung jawab pada keadaan tertentu, peningkatan kemampuan dari anggota team juga bisa membuat team semakin dinamis, termasuk didalamnya adalah kemampuan mengenali berbagai tipe orang, menurut Peter Honey dalam buku Team & Team Works dikatakan sebuah team ada 5 peran : Leaders, Supporter, Doer, Thinker dan Challenger, namun hal ini tidak berarti bahwa peran anggota team bersifat statis, sejak awal hingga selamanya hanya doer saja, bukankah mereka bisa belajar untuk menjalankan peran yang lain untuk pengembangan soft skill, semakin meningkat kemampuan menjalankan berbagai peran ini menunjukan team semakin dinamis dalam merespon kebutuhan dan tekanan perubahan dari luar.

Selain faktor stuktur dan peran, seorang Team Leader daalam mengembangkan team atau Team Building juga perlu menguasai kemampuan situational leadership, teori ini dikembangkan oleh Hersey and Blanchard’s pada dasarnya teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin harus menyesuaikan gayanya pada saat berinteraksi dengan anggota teamnya ada dua faktor yang perlu diperhatikan pada saat memberikan tugas kepada anggota team yaitu faktor kemauan dan kemampuan dalam menjalankan tugasnya, sehingga terdapat 4 gaya kepemimpinan situational : Gaya Telling, Coaching, Supporting dan Delegating, sebagai contoh ada situasi dimana anggota team baru saja dipindahkan untuk menjalankan peran yang baru, pada situasi ini anggota team tersebut masih belum percaya diri untuk mengerjakan pekerjaannya atau dengan kata lain kemauannya ada namun masih rendah, hal yang sama juga dari sisi kemampuannya, Kemauan dan kemampuan rendah, artinya bagi seorang team leader harus menerapkan gaya Telling : berikan instruksi secara jelas tugas-tugas apa saja yang harus dilakukan berikan contohnya bila perlu, hingga dia mengerti. Situasi lain ada anggota team yang kemauan tinggi namun kemampuan rendah, gaya yang paling sesuai adalah Coaching, bila kemauan rendah namun kemampuan memadai, pakailah gaya supporting, sehingga anggota team merasa didukung, dibantu dan diperhatikan. dan gaya Delegating adalah yang paling tepat pada saat anggota team dinilai memiliki kemauan dan kemampuan yang memadai, percayakan dan dengan sedikit supervisi anggota team tersebut pasti akan menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Menjadi seorang Leader yang mampu membawa perubahan memerlukan berbagai kompetensi softskill seperti membangun team yang dinamis selain itu masih banyak teknologi lain yang penting dikuasai untuk mengakselerasi proses perubahan, pembelajaran dan keberhasilan seperti technology Mind Power. Seorang leader yang efektif mampu mengerakan team atau orang yang dipimpinnya dengan pengaruh yang dimiliki sehingga anggota team mau melakukan tugasnya dengan senang hati, semakin tinggi kemampuan soft skill seorang leader semakin efektif dia memimpin teamnya atau membangun team (Team Building) bila hanya bertumpu pada kemampuan teknis semata, itu sama artinya sebuah motor tanpa pelumas, soft skill adalah pelumasnya sayangnya mindset ini belum sepenuhnya menjadi perhatian para Leaders, berita baiknya dengan memilih dan memutuskan untuk meningkatkan kemampuan softskill artinya bisa menjadi faktor pembeda kualitas kepemimpinan seseorang.

Reference:
1. Dyer, W. G., Dyer, W. G., & Dyer, J. H. (2007). Team building: Proven strategies for improving team performance. San Francisco: Jossey-Bas
2. Oertig, M., & Buergi, T. (2006, 12). The challenges of managing cross-cultural virtual project teams. Team Performance Management, 12(1/2), 23–30. doi: 10.1108/13527590610652774
3. Salas, E., Diazgranados, D., Klein, C., Burke, C. S., Stagl, K. C., Goodwin, G. F., & Halpin, S. M. (2009, 12). Does Team Training Improve Team Performance? A Meta-Analysis. Human Factors: The Journal of the Human Factors and Ergonomics Society, 50(6), 903-933. doi: 10.1518/001872008X375009
4. Stephen P. Robbins, Mary Coulter. Management tenth edition, Copyright © 2010 Pearson Education, Inc. Publishing as Prentice Hall